Jainisme

                     Jainisme adalah salah satu ajaran paham jaina di india, yang golongkan ke dalam nastika (heterodoks) karena tidak mengakui otoritas veda.[1] Tradisi yang dikembangkan adalah heterodoks , atheisme namun spiritual. Jaina merupakan sebuah agama minoritas, yang masih hidup hingga saat ini di india.[2]
Dapat dijelaskan lebih ringkas, agar kita dapat mengetahui lebih dekat dengan apa yang akan penulis bahas yaitu tentang ajaran jaina (jainisme).
Filsafat India dibagi menjadi dua:
  1. Astika (Menerima veda), terbagi dua :
1.      Berdasarkan veda secara langsung, terbagi dua :
a.       Menekankan kehidupan Aktif  (Mimamsa)
b.      Menekankan kehidupan Kontemplatif (Vedanta)
2.      Berdasarkan nalar independen (Nyaya, Veisesika,       sankhya dan yoga)     
  1. Nastika (Menolak veda), terbagi dua :
1.      Materialistik (carvaka)
2.      Spiritualistik (Jaina dan Buddhisme)[3]
 jaina artinya `penakluk spiritual` orang yang telah berhasil menaklukkan keinginan kenginannya. sekalipun pengikutnya sangat sedikit dibandingkan penduduk india agama ini masih eksis dengan pengikut pengikutnya yang terpencar diberbagai wilayah. [4]
Sejarah
Asal mula ajaran ini diperkirakan sudah ada pada zaman prasejarah india. Orang-orang pengikut jaina `Jainisme` mempercayai dengan adanya 24 Tirthankkara atau pendiri keyakinan dari mana keyakinan dan agama jaina diturunkan dan berkembang. Menurut tradisi jaina, Tirthangkara pertama adalah Rsabhadeva yang merupakan pendiri jainisme dan terakhir adalah mahavira, pahlawan spiritual besar yang namanya juga adalah “vardhamana”. Mahavira, nabi terakhir tidak bisa dipandang sebagai pendiri, karena sebelum beliau ajaran-ajaran jaina telah ada. Tetapi mahavira memberikan orientasi baru sehingga jaina moderen menganggap ajaran jaina berasal dari mahavira. Ia hidup pada abad ke enam sebelum masehi se-zaman dengan budha.[5]
Ajaran ini menekankan aspek etika yang sangat ketat, terutama komitmennya terhadap konsep ahimsa. Di katakan oleh para sarjana, konsep ahimsa inilah yang banyak mempengaruhi ajaran-ajaran berikutnya, seperti Buddha, bhagadgita, dan sebagainya. Menurut tradisi jaina, garis perguruan yang sangat panjang sejak zaman pra-sejarah diturunkan dimana keyakinan ajaran ini diteruskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Guru-guru yang telah meneruskan ajaran-ajaran jaina ini berjumlah dua puluh empat orang, yang disebut Tirthangkara atau penyebar keyakinan dan yang telah mendapat pencerahan.[6]
Epsitemologi
Dalam aspek epistemologi, jaina menolak pandangan carvaka bahwa persepsi hanyalah satu-satunya sumber valid munculnya pengetahuan. Jika kita menolak kemungkinan memperoleh pengetahuan benar melalui inferensi dan testimoni orang lain, kita semestinya meragukan validitas persepsi, karena sekalipun persepsi kadang-kadang bisa bersifat ilusi. Padahal carvaka sendiri memakai inferensi (anumana) ketika mengatakan bahwa semua inferensi adalah invalid, dan juga ketika mereka menolak eksistensi objek-objek karena mereka tidak dilihat. Disamplng persepsi, jaina menerima inferensi dan testimony (sabda) sebagai sumber pengatahuan valid. Inferensi menberikan pengetahuan valid ketika ia mengikuti kaidah-kaidah logis yang tepat. Testimoni valid ketika ia merupakan laporan otoritas terpercaya. Atas otoritas ajaran-ajaran orang-orang sucu yang telah terbebaskan (jaina atau tirthankara) orang-orang pengikut ajaran ini mendapatkan pengetahuan yang benar yang tidak dapat diperoleh oleh orang yang masih terbatas. Testimoni Tirthankara ini tidak diragukan lagi ke-validan-nya.[7]
Jaina mengklasifikasikan pengetahuan menjadi, pengetahuan langsung (aparoksa) dan pengetahuan antara (paroksa). Pengetahuan langsung lebih lanjut lagi dibagi lagi menjadi avadhi, manahparyaya dan kepala; dan pengetahuan antara menjadi mati dan sruta. Mati mencakup pengetahuan perseptual dan inferensial. Sruta berarti pengetahuan yang diambil dari otoritas. Avadhi-jnana, manahparyaya-jnana, dan kevala-jnana merupakan tiga jenis pengetahuan langsung yang bisa dikatakan sebagai persepsi ekstra biasa dan ekstra sensori avadhi adalah kemampuan melihat hal-hal yang tidak Nampak oleh indra; manahparyaya adalah telepathi; dan kevala adalah kemahatahuan. Disamping kelima pengetahuan benar tersebut diatas, ada juga tiga pengetahuan salah, yaitu samshaya atau keragu-raguan, viparyaya atau kesalahan dan anandhyavasaya atau pengetahuan salah melalui kesamaan.[8]
Pengetahuan lagi dibagi menjadi dua jenis, yaitu pramana atau pengetahuan tentang suatu benda seperti apa adanya, dan naya atau pengetahuan tentang suatu benda didalam hubungannya dengan yang lainnya. Naya berarti titik pandang atau pendapat dari mana kita membuat pernyataan tentang sesuatu . Semua kebenaran adalah relativ terhadap pandangan kita. Pengetahuan parsial merupakan salah satu aspek yang takterhitung banyaknya tentang suatu benda disebut  “naya” . Terdapat tujuh naya yang empat pertama adalah artha-naya, kemudian tiga terakhir disebut sabda-naya.[9]
Jaina percaya dengan pluralisme roh; terdapat roh-roh sebanyak tubuh hidup yang ada. Tidak hanya roh dalam binatang, tetapi juga tumbuh-tumbuhan dan bahkan dalam debu. Hal ini juga diterima dalam ilmu pengetahuan moderen. Semua roh tidak secara sama memilki kesadaran, ada yang lebih tinggi ada yang lebih rendah. Semaju apapun indria-indrinya, roh terbelenggu dalam pengetahuan y6ang terbatas; juga terbatas dalam tenaga dan mengalami segala jenis penderitaan.Tetapi setiap roh mampu mencapai kesadaran tak terbatas, kekuatan dan kebahagian. Mereka dihalangi oleh karma, seperti matahari dihalangi oleh awan. Karma dapat menyebabkan belenggu roh. Dengan menyingkirkan karma roh dapat memindahkan belenggu dan mendapatkan kesempurnaan alamiah.[10]
            Tiga cara menyingkirkan belenggu, yaitu keyakinan yang sempurna dalam ajaran-ajaran guru-guru jaina, pengetahuan benar dalam ajaran-ajaran tersebut, dan perilaku yang benar. Perilaku benar terdiri atas praktek tidak menyakiti atau melukai seluruh makhluk hidup, menghidari kesalahan, mencuri, sensualitas, dan kemelakatan objek-objek indriya, mengkombinasikan ketiganya di atas, perasaan akan dikendalikan dan karma yang membelenggu roh akan disingkirkan. Lalu, roh mencapai kesempurnaan alamiahnya yang tak terbatas, pengetahuan tak terbatas, dan kebahagian yang tak terbatas. Inilah keadaan miksa menurut ajaran jaina. Hal ini telah dibukatikan oleh guru-guru dalam tradisi jaina atau Tirthankara. Mereka memperlihatkan jalan menuju moksa.[11]
Metafisika
Di dalam aspek metafisikanya, jainisme mengambil posisi realistik dan pluralism relativistik. Ia disebut atau doktrin pluralistik realitas. Material dan spirit dipandang sebagai realitas-realitas yang independen dan terpisah. Terdapat atom-atom material yang tak terhitung jumlahnya dan roh-roh individu aspek-aspek dirinya yang juga tak terhitung jumlahnya. Sebuah benda mempunyai karakteristik yang tak hingga jumlahnya . setiap objek mempunyai karakter positif dan negative yang tak terhitung jumahnya. Adalah tak mungkin bagi manusia biasa untuk mengetahui semuanya itu. Kita hanya tahu sebagian kecil saja. Oleh karena itu, jainisme  mengatakan ia yang mengetahui semua sifat benda di dalam satu benda, mengetahui semua sifat semua benda, dan ia mengetahui semua sifat semua benda. Mengatahui senua sifat di dalam satu benda. Pengetahuan manusia, dengan melihat kapasitasnya yang terbatas , ia adalah relativ dan terbatas dan semuanya merupakan keputusan kita. Teori logika dan epistemologi Ajaran jaina ini disebut “syadvada”. Baik anekantavada maupun syadvada merupakan dua aspek dari ajaranyang sama –realistik dan prulalistik relativistik. Sisi metafisikanya bahwa realitas mempunyai karakter yang tak terhitung jumlahnya disebut anekantavada, sementara pandangan logika dan epistemologinya bahwa kita hanya dapat mengetahui beberapa aspek saja dari suatu realitas di dunia dan oleh karena itu keputusan-keputusan kita bersifat relativ, maka ia disebut syadvada dan ada tujuh golongannya:
1.      syadasti:secara relative, sebuah benda riil.
2.      Syannasti:secara relative, sebuah benda tidak riil.
3.      Syadasti nasty:secara relative, sebuah benda keduanya riil dan tidak riil.
4.      Syadavaktavyam:secara relative, sebuah benda tak bisadijelaskan.
5.      Syadasti cha avaktavyam:secara relative, sebuah benda riil dan tidak bisadijelaskan.
6.      Syannasti cha avaktavyam:secara relative, sebuah benda tidak riil dan tidak dapat di jelaskan.
7.      Syadasti cha nasty cha avaktavyam: secara relative, sebuah bendarill, tidak riil dan tidak bisa dijelaskan.
Masyarakat jainisme terdiri atas pendeta, biara dan orang kebanyakan. Hanya ada lima disiplin spiritual didalam jainisme. Di dalam kasus kependetaan disiplin ini benar-baner ketat, kaku dan sangat fanatik. Sementara dalam kasus orang umum hal itu bisa di modifikasi. Kelima sumpah disebut “sumpah besar” (maha-vrta), sementara bagi orang umum disebut ‘sumpah kecil’ (anu-vrta). Kelima sumpah tersebut adalah (1) ahimsa (non kekerasan), (2) satya (kebenaran di dalam pikiran), (3) asteya (tidak mencuri), (4) brahmacharya (berpantang dari pemenuhan nafsu baik pikiran, perkataan maupun perbuatan), dan (5) aparigraha (ketakmelekatan dengan pikiran, perkataan dan prbuatan). Dalam halo rang umum, aturan ini bisa di modifikasi dan disederhanakan.[12]
Seperti buddhisme, jainisme adalah sebuah agama yang tidak mempercayai adanya tuhan, menolak veda oleh karena itu disebut nastika. Tetapi, jaina menekankan pada aspek etika dn spiritual.[13]
Simpati kepada semua makhluk hidup adalah salah satu ajaran utama jaina. Jaina juga menghormati semua jenis pemikiran. System ini menunjukkan bahwa setiap objek mempunyai aspek-aspek yang tak terbatas yang ditentukan oleh dirinya sendiri dan bukan dari luar dirinyasendiri atau dari pandangan yang berbeda. Semua keputusan benar terhadap suatu benda sepanjang berhubungan dengan benda tersebut. Mengingat keterbatasan pikiran, tidak ada satu pikiran berlaku benar bagi semua benda atau hal. Kita harus belajar menjaga dan memprtahankan pikiran kita masing-masing dengan cara menghormati kemungkinan benar pendapat atau pemikiran orang lain.[14]
Sedangkan      Karma adalah pengikat yang menggabungkan roh dengan tubuh. Keyakinan yang benar, perbuatan yang benar, pengetahuan yang benar membentuk jalan yanga benar untuk mencapai pembebasan yang merupakan efek dari ketiganya tadi. Ketiganya ini merupakan triratna (tiga permata) bagi jainisme.
Sekte
Didalam perkembangannya, jainisme pecah menjadi dua sekte, yaitu swetambara atau (yang berpakaian putih) dan dirgambara atau (yang berpakaian langit). Perbedaannya adalah hanya dalam beberapadetail ajaran dan praktek agama yanga bersifat minoritas. Secara fundamental tidak ada perbedaannya. Pecahnya menjadi dua sekte tersebut tidak berpengaruh kepada jainisme yang esensial. Dirgambara lebih keras dan sangat fanatik, sementara swetambara lebih akomodatif. Aturan agar berpakaian putih atau telanjang bulat hanya berlaku bagi pendeta tertinggi dan bukan untuk orang kebanyakan; tidak juga bagi pendeta yang rendah. Menurut swetambara, pendeta tertinggi harus mengenakan jubah putih, sementara menurut dirganbara, mereka harus tidak mengenakan kain secarikpun. Menurut sekte dirgambara mereka harus mempertahankan hidup pertapa yang sempurna, tidur hanya tiga jam sehari, makan dari meminta-minta, susah waktunya untuk belajar dan mengajar, dari wanita tidak dapat mencapai pembebasan: sementara swetambara menolak pandangan ini. Kehidupan kependetaan dirgambara sangat keras dan ketat didalam hal disiplin. Karenanya pengikutnya sangat kecil jumlahnya. [15]
Penutup
Jainisme adalah sejenis realisme karena menegaskan adanya realitas dunia eksternal; pluralism, karena ia percaya dengan banyak realitas tertinggi. Ia adalah atheism karena ia menolak eksistensi tuhan. Disamping itu  jainisme juga tidak mempercayai otoritas tertinggi, oleh karena itu digol Jaina tidak percaya dengan ajaran Tuhan,
Tirthankara mengambil posisi Tuhan. Mereka dipuja dan dijakdikan cita-cita hidup pengikutnya.ongkan kedalam nastika.




Daftar Pustaka

Suamba, Putu, I.B,. Dasar-dasar Filsafat India. Denpasar: Mabhakti, 2003.
Matthews, Warren. world religion. Canada: Wadsworth Publishing, 1999.
[1]
           


[1] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, (Denpasar: Mabhakti, 2003), h. 303.
[2] Warren Matthews, world religion, (Canada: Wadsworth Publishing, 1999), h. 178-179.
[3] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 305.
[4] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 314.
[5] Warren Matthews, world religion, h. 179.
[6] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 315
[7] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 315-316.
[8] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 316.
[9] Ibid.,
[10] Ibid., h. 18
[11] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 320.
[12] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 319.
[13] Warren Matthews, world religion, h. 183.
[14] Ibid., h. 185.
[15] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 322-323.
oleh: mahbubrisad

read more

`Abd al-Rauf al-Sinkili

`Abd al-Rauf al-Sinkili (1024/1105-1615-1693)

            `Abd al-Rauf al-Sinkili dalam proses transmisi pemikiran doktrin wahdat al-Wujud memiliki peranan yang cukup signifikan, terutama pasca  Nur al-Din al-Raniri dengan dukungan penguasa kerajaan aceh melakukan tekanan dan pembakaran terhadap para pengikut Hamzah Fansuri dan Syams al-Din al-Sumatrani. Kedatangan al-Sinkili pada waktu itu membawa pengaruh yang besar terhadap situasi daan kondisi sosial keagamaan masyarakat Aceh ketika itu. Dengan penguasaan ilmu agama yang mumpuni dan kedekatannya dengan para penguasaa Aceh serta Jaringan Intelektual dengan Haramayn, memberikan keleluasan baginya untuk memberikan solusi terhadap persoalan  yang timbul pada masa itu, disamping itu al-Sinkili bukan tipe ulama yang radikal semisal Nur al-Din al-Raniri, sehingga ia banyak tidak menyetujui terhadap tindakan oleh Nur al-Din sl-Raniri terhadap orang yang dianggapnya menyimpang dari ajaran Islam.
            `Abd al-Rauf al-Sinkili merupakan ulama pertama yang membawa Tarekat Syattariyah ke Nusantara, maka pemahaman dan tindakannya paling tidak memcerminkan  terhadap pendidikan yang selama ini diterimanya di Makkah dari Ibrahim al-Kurani. Ia lebih cenderung untuk bersikap moderat daaan toleran terhadap orang lain. Misalnya dalam menyikapi polemik pengkafiran terhadap pengikut Hamzah Fansuri dan Syams al-Din al-Sumatrani, dengan mengutip sebuah Hadits, al-Sinkili mengingatkan agar menuduh muslim lainnya sebagai kafir. Jika memang demikian, keuntungan apa yang kita peroleh darinya dan jika tuduhan itu tidak benar, ia akan berbalik menghantam diri kita sendiri.
            Al-Sinkili sangat hati-hati dalam menerjemahkan doktrin mistiknya itu, terlihat dari ungkapan-ungkapan yang disampaikan dalam tulisan-tulisannya.
            Misalnya ketika al-Sinkili menjelaskan tentang hadits “man `arafa nafsahu faqad `arafa Rabbahu” (barang siapa mengenal dirinya maka diapun mengenal Tuhannya). Al-Sinkili mengatakan bahwa yang dimaksud dengan makna hadits tersebut adalah barang siapa mengenal dirinya sebagai seorang yang fakir maka niscaya ia mengenal Tuhannya sebagai Zat Yang Maha Kaya, barang siapa mengenal dirinya sebagai seorang yang lemah maka niscaya ia mengenal Tuhannya sebagai Zat Yang Maha Kuat, barang siapa mengenal dirinya sebagai seorang yang tidak berdaya maka niscaya ia mengenal Tuhannya sebagai Zat Yang Maha Kuasa, barang siapa mengenal dirinya sebagai seorang yang Hina maka niscaya ia mengenal Tuhannya sebagai Zat Yang Maha Mulia.
            Lebih lanjut al-Sinkili menegaskan bahwasannya hamba akan tetap menjadi hamba betapapun ia naik pada tingkat yang tinggi (taraqqi), daan Allah tetap Allah meskipun ia turun (tanazzul). Demikian hakekatnya tidak akan berubah, hakekat hamba adalah hamba dan tidak akan berubah menjadi hakekat Allah, demikian pula sebaliknya, walau pada zaman azali sekalipun.    
Biografi, Karya dan Murid-muridnya.
Nama lengkap dari `Abd al-Rauf al-Sinkili adalah `Abd al-Rauf bin `Ali al-Jawiyyi al-Fansuri al-Singkili. Tahun kelahirannya tidak dapat diketahui dengan pasti hingga saat ini, tetapi menurut Ringkes seperti dikutip Azra menyebut bahwa al-sinkili dilahirkan sekitar tahun 1024/1615 dan dimungkinkan meiliki hubungan keluarga dengan Hamzah Fansuri, sebab dalam sebagian karyanya namanya selalu di ikuti dengan pernyatan “yang berbangsa Fansuri”.[1]
            Begitu juga dengan kehidupan awalnya tidak dapat diketahui dengan pasti akan tetapi ia memperoleh pendidikan awal dari kalangan keluarganya. Setelah dewasa, al-sinkili pergi ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan menimba ilmu dan berguru kepada ulama di haramayn. Dalam Umdat al-Muhtajin al-sinkili memberikan catatan biografinya mengenai studinya di Haramayn. Dia menuliskan daftar 19 guru dan 22 ulama lainya yang dengan merekalah al-Sinkili menimba ilmu dari berbagai bidang dan menghabiskan waktu selama 19 tahun untuk belajar di timur tengah. Diantara guru-guru al-sinkili yang terpenting adalah  Ahmad al-Qusyasyi (w. 1071/1660), Ibrahim al-Kurani (w. 1101/1690), Ibrahim bin Abdullah bin ja`man (w. 1083/1672), Abdullah al-Lahuri (w. 1083/1672) yang merupakan murid dari al-Qusyasyi, Ali bin Abd al-Qadir al-Tabari.[2]
            Dari al-Qusyasyi nampaknya al-sinkili mendapat pengetahuan tentang ilmu tasawuf dan tarekat, sementara al-Kurani bersifat mengembangkan intelektualnya. Namun hubungan al-sinkili dan al-Kurani tidak terbantahkan. Hal ini terbukti dari pasca kedatangan al-sinkili dari aceh, ia terus menjalin komunikasi dengan ulama timur tengah terutama dengan Ibrahim al-Kurani untuk mendiskusiakn persoalan yang timbul di tanah jawa.[3]
            Setelah kembali ke Aceh, al-Sinkili diangkat diangkat oleh Sultan menjadi Qadhi kerajaan pada masa Naqya Tudin Nurul Alam (1675-1678) dan Sultanah Zakiyatudin (1678-1688). Dengan demikian al-Sinkili mendapat petronasi dari kerajaan. Dalam masa itu al-Sinkili menghasilkan berbagai karya tulis dalam bahasa melayu dan bahasa arab. Antara lain :
  1. Mi`rat Ath-Thullab (fiqih Syafi`I bisang muamalat ),,
  2. Hidayat Al-Balifhah (fiqih  tentang sumpah, kesaksian, peradilan, pembuktian dan lain-lain),
  3. `Umdat Al-Muhtajin (tassawuf),
  4. Syams Al-ma`rifah (tasawuf tentang ma`rifat),
  5. Kifayat Al-=Muhtajin (tasawuf),
  6. Daqa`iq Al-Huruf (tasawuf),
  7. Turjumah Al-Mustafidh (tafssir).[4]
            Banyak ulama-ulama yang berguru kepada `Abd al-Rauf al-Sinkili seperti Syekh Burhanudin dari Ulakan, Sumatera barat, Abdul Muhyi dari Jawa, Abd a-Malik bin Abd Allah dari Trengganu, dan Dawud i-Jawi al-Fansuri bin Ismail. Nama yang terakhir ini diindikasikan sebagai murid kesayangan dari al-Sinkili. Dengan berdasarkan kolofon Tarjuman al-Mustafid, disebutkan bahwa dia diperintahkan oleh al-Sinkili untuk membuat beberapa penambahan pada tafsir tersebut, sebelum al-sinkili meninggal dunia. Sementara hasymi menyatakan bahwa Dawud al-Jawi merupakan khalifah utama dari al-Sinkili dan bersama-sama dengan gurunya ia mendirikan Dayah sebagai tempat pendidikan bagi murid-muridnya.[5]
Pembaruan Wujudiyah
Ketika `Abd al-Rauf al-Sinkili meninggalkan Aceh untuk belajar ke timur tengah. di Aceh terjadi polemik antara Nur al-Din al-Raniri dengan para pengikut Hamzan Fansuri dan Syam al-Din al-Sumatrani. Maka sangat dimungkinkan `Abd al-Rauf al-Sinkili melihat dan mengalami secara langsung polemik tersebut sampai adanya pengkafiran dan hukuman mati. hal ini tentunya memberi kesan yang kuat kepada al-sinkili, sehingga kepergiaanya ke timur tengah juga salah satunya adalah untuk belajar tentang masalah-masalah tersebut. `Abd al-Rauf al-Sinkili menemukan orang yang tepat di Madinah,  untuk membicarakan masalah itu yaitu dengan al-Qusyasyi dan al-Kurani. Pergaulannya dengan ulama-ulama ini pada gilirannya membawa al-Sinkili menjadi salah satu eksponen neo sufisme di Nusantara dan menjadi salah satu pembela Madhab Ibn `Arabi (wahdat al-wujud) meski dengan penafsiran-penafsiran baru yang lebih ortodoks.[6]
            Sebelum menjelaskan tentang persoalan wahdat al-wujud, al-Sinkili terlebih dahulu menegaskan tentang pentingnya Tauhid kepada Allah. Dalam pandangannya Tauhid adalah tindakan mengkaitkan seperti kata membenarkan atau mendustakan, dan bukan menjadikan. Maka arti kalimat aku meng-Esa-kan Allah berarti aku mengaitkan Allah dengan sifat Esa dan bukan menjadikan-Nya Esa. Sebab ke-Esa-an Allah itu telah melekat pada Zat-Nya, dan bukan karena ada yang menciptakan.[7]
            Berangakat dari konsep tauhid ini kemudian al-Sinkili menjelaskan hubungan Ontologis antara Tuhan dan Alam, antara al-Haqq dengan al-Khalaq, antara yang Esa dengan yang Banyak, antara Wajib al-Wujud dan al-Mumkinat. Bahwasanya Alam adalah nama untuk segala sesuatu selain al-Haqq. Dibentuknya alam seperti ini karena ia adalah sarana untuk mengetahui keberadaan Allah , maka keberadaan alam itu juga merupakan bukti adanya Allah,  oleh karena itu Hakikat alam adalah Wujud yang terikat pada sifat-sifat yang Mumkinat. Dan jika dihubungkan dengan al-Haqq, maka alam itu bagaikan bayangan. maka bayangan itu tidak memiliki wujud selain wujud pemilik bayangan-Nya. Wujud manusia (alam) adalah merupakan bayang-bayang dari Wujud-Nya. Jadi  mesti dipahami bahwa alam ini bukan benar-benar Zat Allah dan berbeda dengan Allah, alam itu adalah baru karena ia tercipta dari pancaran Wujud-Nya dan berada pada tingkat di bawah-Nya.[8]
            Dalam karyanya yang lain kifayah muhtajin juga dijelaskan hubungan antara Alam dengan Tuhan, seperti bayang-bayang dengan pemilik bayang-bayang. Alam adalah bayang-bayang dari Allah dan antara bayang-bayang dengan pemilik bayang-bayang tidak akan pernah sama, dan selamanya bayang-bayang selalu tergantung dengan pemilik bayang-bayang yakni Tuhan.[9]
            Inilah yang dimaksud oleh al-Sinkili sebagai Wahdat al-Wujud, yaitu alam bukanlah Wujud kedua yang berdiri sendiri selain Allah dan bahwa al-haq SWT itu maha Esa, tidak ada satu pun yang menyertai segala sesuatu baik di permulaan maupun di akhirnya.[10]
            al-Sinkili menjelaskan tentang Tajalli Tuhan ke dalam Tujuh Martabat. Martabat Pertama adalah Martabat Ahadiyah, Martabat Kedua adalah Wahdah, Martabat ketiga adalah Wahidiyah, Martabat keempat adalah Alam Arwah, Martabat Kelima adalah Alam Mitsal, Martabat Keenam adalah Alam Ajsam dan Martabat Ketujuh adalah Alam Insan.[11]
            Tiga Martabat yang Pertama, sebagai Anniyat Allah, dinamakan dengan Martabat Ketuhanan dan disebut juga dengan Martabat Batin dan Empat Martabat berikutnya sebagai Anniyat Makhluq, disebut dengan Martabat Ke-hamba-an dan Martabat Lahir.[12]
            Lebih lanjut al-sinkili menjelaskan bahwa Martabat Ahadiyah merupakan Nukhah Zat, Martabat Wahdah adalah Nuskhah Sifat, dan Martabat Wahidiyah adalah Nuskhah Asma`, Martabat Alam Arwah adalah Nuskhah Adam, Alam Mitsal adalah Nuskhah adalah segala perkara yang di langit dan di bumi, dan Ajsam adalah Nuskhah segala tubuh dan Alam Insan adalah Nuskhah dari Martabat-martabat sebelumnya.[13]         
Polemik, antara Wahdat al-Wujud dan kitab Tuhfah
            Dalam Daqa`iq al-Huruf al-Sinkili menjelaskan doktrin martabat tujuh dengan merujuk kepada kitab Tuhfah al-Burhanpuri yang memang menjadi wacana yang dikenal luas di nusantara, tidak diketahui secara pasti kapan kitab ini masuk Nusantara. Namun pada masa Syam al-Din al-Sumatrani, kitab ini nampaknya sudah dikenal baik di Aceh sehingga Syam al-Din al-Sumatrani juga menjadikan kitab ini menjadi rujukannya. Sampai kemudian terjadi polemik yang hebat antara Nur al-Din al-Raniri dengan para penganut doktrin Wahdat al-Wujud di aceh.[14]
            Doktrin Wahdat al-Wujud yang terkandung dalam kitab tuhfah tersebut menjadi ajaran yang populer di tanah jawa dan bahkan menjadi pelajaran dasarnya. Oleh karenanya tema Wahdat al-Wujud dalam Tuhfah menjadi populer dikalangan masyarakat. Hal ini memungkinkan terjadinya salah penafsiran yang dilakukan oleh orang-orang yang kurang memiliki pengetahuan dalam bidang agama (tasawuf) dalam menjelaskan doktrin Wahdat al-Wujud dari para sufi, sebab kitab tuhfah ini sangat ringkas. Untuk menghindar kan hal itu maka al-Kurani, menulis sebuah risalah sebagai syarah (penjelasan) dari kitab Tuhfah untuk disampaikan kepada kaum Jawiyyin.[15]
            Berbagai tulisan lainnya pun dihasilkan dalam rangka menjernihkan dotrin Martabat Tujuh sehingga tidak dipahami secara salah, al-burhanpuri mengendalikan jenis Tasawuf yang berlebih-lebihan dan lebih kepada penekanan pada unsur-unsur penting islam seperti keberadaan mutlak Tuhan dan syariat, sehingga azra melihat bahwasannya isi dari kitab Tuhfah tentang konsep Martabat Tujuh dengan penjelasannya yang ringkas tersebut justru benar-benar bersifat filosofis. Hal ini sangat mungkin akan mengaburkan maksud dan tujuan dari pengarang terutama jika karya ini dibaca oleh orang awam.[16]       
Tarekat Syattariyah di Nusantara
            Tarekat syattariyah adalah sebuah tarekat yang seperti diungkapkan Trimingham tidak didapati informasi yang jelas terkait dengan asal-usulnya, namun diduga kuat ia pertama kali muncul di India pada abad ke 15, ia dikenal juga sebagai aliran Isyqiyyah.[17]
            Dalam penjelasan doktrin Wahdat al-Wujud di nusantara peran tarekat syattariyah yang dibawa oleh `Abd al-Rauf al-Sinkili setelah menerima ijazah untuk menjadi khalifah syattariyah dari Ahmad al-Qusyasyi yang disebutnya sebagai pembimbing spiritual dan guru di jalan Allah. Tarekat ini memiliki peranan yang cukup signifikan dalam pengembangan ajaran islam, paling tidak kehadirannya membawa pemahaman baru dan membuata polemik antara kaum ortodoks dengan yang dianggap heterodoks dapat diminimalisasi.[18]
            Pengaruh al-Sinkili segera tersebar luas ke nusantar lewat berbagai ijazah tarekat yang diterimanya (bukan hanya syattariyah saja). Ia tersebar ke pulau jawa lewat salah satu muridnya Abdul Muhyi Paminjahan yang kemudian segera tersevar pula ke jaw tengah dan jawa timur. Sejumlah muridnya yang belum dapat diidentifikasi namanya juga membawa Tarekat Syattariyah ini ke bengkulu, yang mana membawa kepada bangkitnya sebuah tarekat yang dinamakan Qusyasyiyah, yang sebagaimana dapat diduga dinisbatkan kepada al-Qusyasyi yang merupakan guru dari al-Sinkili. Syekh Burhanuddin menjadi murid al-Sinkili dan diangkat menjadi khalifah Syattariyah di ulakan, sumatera barat, yang kemudian mendirikan surau (lembaga pendidikan) dan terbukti efektif dalam rangka menyebarluaskan ajaran dan tarekat ini.[19]
Kesimpulan
            Dengan demikian tidak semua jaringan tarekat syattariyah di Nusantara selalu dihubungkan dengan `Abd al-Rauf al-Sinkili, melainkan ada yang menyatakan bahwa ada beberapa daerrah di Nusantara yang memperoleh tarekat syattariyah dari jalur yang lain meski pada muara yang sama yaitu Ahmad al-Qusyasyi melalui muridnya Ibrahim al-Kurani. Seperti berkembangnya tarekat syattariyah di buntet, cirebon, bahwasannya tarekat syattariyah buntet ini berkembang tidak melewati `Abd al-Rauf al-Sinkili melaikan melalui Muhammad Tahir bin Ibrahim al-Kurani yang menerima dari ayahnya Ibrahim al-Kurani. Fenomena ini tentunya mudah di mengerti sebab kedudukan haramayn sebagai pusat ilmu ketika itu sangatlah dominant sehingga merangsang sekaligus mengundang kaum muslimin untuk menuntut ilmu di sana.
            Jika ditelusuri lebih jauh, sebetulnya ini jaringan penyebaran doktrin Wahdat al-Wujud dan pengembanganya adalah berada di haramayn. Sebagaimana kita lihat bahwa al-Qusyasyi dan al-Kurani memiliki peran yang jelas dalam penyebaran ajaran martabat tujuh di Nusantara Melalui Tarekat Syattariyah `Abd al-Rauf al-Sinkili.
            Dan semoga apa yang telah menjadi uraian di atas meskipun sangat singkat dan sedikit, menjadi hal yang dapat membawa kita kepada manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Amien.







Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi. Islam Nusantara: Jaringan Global Dan Local Islam Nusantara. (Bandung: Mizan, 2002).
Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII: melacak akar-akar pembaruan pemikiran di Indonesia. (Bandung: Mizan, 1993).
Arifin, Miftah. Disertasi. Wujudiyah di nusantara: menelusuri kontinuitas dan perubahan doktrin Wahdat al-Wujud di Indonesia pada abad XVI-XIX. (Jakarta: 2007).
Oman, Fathurrahman. Tanbih al-Masyi: Menyoal Wahdat al-wujud kasus Abd al-Rauf Singkel di Aceh abad 17. (Bandung: Mizan, 1999)
Solihin, M, Drs, M.ag. Sejarah dan Pemikiran Tasawuf di Indonesia. (Bandung: Pustaka setia, 2001).



[1] Azyumardi azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII: melacak akar-akar pembaruan pemikiran di Indonesia (Bandung: mizan, 1993), h. 189-190.
[2] Azyumardi azra, h. 120-121.
[3] Azyumardi azra, h. 189-211.
[4] Drs. M Solihin. M.ag, Sejarah dan Pemikiran Tasawuf di Indonesi (Bandung: Pustaka setia, 2001), h. 51.
[5] Azyumardi azra, h. 210-211.
[6] Azyumardi azra, h. 191.
[7] Fathurrahman. Oman, Tanbih al-Masyi: Menyoal Wahdat al-wujud kasus Abd al-Rauf Singkel di Aceh abad 17 (Bandung: Mizan, 1999), h. 191.
[8] Al-sinkili, Bayan Tajalli, Jakarta: Perpustakaan Nasional, ML, No 115. lihat Miftah. Arifin, Disertasi, Wujudiyah di nusantara: menelusuri kontinuitas dan perubahan doktrin Wahdat al-Wujud di Indonesia pada abad XVI-XIX (Jakarta; 2007), h.196.
[9] Lihat, Fang, Hawyock, Sejarah Kesusaasteraan Melayu Klasik, 11, Jakarta: Erlangga, 1993, h. 64. lihat disertasi Miftah Arifin, 2007, h. 196.
[10] Lihat Tanbih al-Masyi, h. 96. lihat disertasi Miftah Arifin, 2007, h. 196-197.
[11] Lihat, al-Sinkili, Bayan Tajalli, MS, Jakarta: Perpustakaan Nasional, ML, No, 115. lihat disertasi Miftah Arifin, 2007, h. 201.
[12] Lihat, al-Sinkili, Umdat al-Muhtajin, MS, Jakarta: Perpustakaan Nasional, ML, No, 115. lihat disertasi Miftah Arifin, 2007, h. 201.
[13] Lihat, al-Sinkili, Umdat al-Muhtajin, MS, Jakarta: Perpustakaan Nasional, ML, No, 115. lihat disertasi Miftah Arifin, 2007, h. 201.
[14] Azyumardi azra, h. 120-121.
[15] Ibid.,
[16] Azyumardi azra, h. 120.
[17] Lihat Trimingham, The Sufi Order, h. 107. lihat disertasi Miftah Arifin, 2007, h. 210.
[18] Miftah. Arifin, Disertasi, Wujudiyah di nusantara: menelusuri kontinuitas dan perubahan doktrin Wahdat al-Wujud di Indonesia pada abad XVI-XIX (Jakarta; 2007), h. 212.
[19] Azyumardi Azra, Islam Nusantara: Jaringan Global Dan Local Islam Nusantara (Bandung; Mizan, 2002), h. 107-108.

oleh: mahbubrisad

read more

Khutbah Jum`at

0 komentar
Zikir
oleh: mahbubrisad
Khutbah I
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره الكافرون. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الأمين. اللهم فصل وسلم على نبيك ورسولك محمد وعلى آله وأصحابه والتابعين.
أما بعد. فأصيكم عباد الله ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون. قال الله تعالى في كتابه الكريم: الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السماوات ... الآية
Hadirin yang dimulyakan Allah

Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, melaksanakan seluruh perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya. Dan selalu mensyukuri setiap nikmat yang sudah, telah, dan akan Allah berikan. Dan marilah kita selalu ingat ”zikir” kepada Allah
Di dalam surah Al-Baqarah ayat 152, Allah memberikan perjanjian kepada manusia, bahwa barang siapa ”manusia” yang ingat kepada Allah niscaya Allah akan ingat pula padanya. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Quran:
            فاذكروني أذكركم واشكرولي ولا تكفرون. (البقرة: ١٥٢) 
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-ku. (QS Al-Baqarah [2]: 152)
Demikian ayat ini sering dikutip. Namun, mengamalkannya gampang-gampang susah. Ayat ini mengingatkan kita bahwa dalam setiap tarikan napas dan kesadaran, manusia seyogianya selalu menempatkan Allah sebagai pelabuhan terakhir. Artinya, manusia dapat mengingat Allah dimana saja dan kapan saja selama ia masih berada di atas bumi-Nya. kita pun sering melihat bermacam-macam ekspresi manusia dalam mengingat Allah, ada yang menangis, berdiam diri, menyayi, menari, dan ada pula yang bertutur kata.

Hadirin yang dimulyakan Allah

Dalam konteks ”ingat kepada Allah” ini, umat islam tidak pernah lepas dari tiga hal: Doa, Wirid, dan Zikir. Doa adalah permintaan atau permohonan sesuatu kepada Allah untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Wirid merupakan bacaan tertentu untuk mendapatkan ”aliran” berkah dari Allah. Sementara zikir adalah segala gerak gerik dan aktifitas yang terobsesi pada kedekatan atau taqarrub kepada Allah. Me-lafadz-kan kata-kata tertentu yang mengandung unsur ingat kepada Allah juga termasuk zikir. Zikir sangat penting karena dalam pandangan spiritual ”kesufian” ia merupakan langkah pertama cinta kepada Allah.
zikir merupakan bentuk komitmen dan kontinuitas untuk meninggalkan kondisi lupa kepada Allah dan memasuki wilayah musyahadah (persaksian), dan untuk mengalahkan rasa takut bersaman dengan rasa kecintaan yang mendalam. zikir dapat dimaknai juga dalam pengertian ”berlindung kepada Allah”. Dapat dikatakan, zikir adalah upaya mengingat Allah yang dapat dilakukan dengan diam-diam atau bersuara.

Hadirin yang dimulyakan Allah

Pada tahap awal pengucapan zikir memang terasa sebatas lisan. Ini bukanlah sesuatu yang buruk. Hanya saja, seseorang perlu meningkatkan kualitas zikirnya hingga benar-benar mengantarkanya pada kondisi persaksian atas kesucian dan keagungan Allah. Kontinuitas zikir mampu membawa manusia pada satu tahapan yang di dalamnya persaksian terhadap Allah memenuhi wilayah qalb (hati). Pada tahap ini, zikir tidak lagi berada di wilayah kesadaran, tetapi juga masuk dalam wilayah ketidaksadaran. Proses zikir pun berjalan di kala terjaga, tidur, pingsan, mati suri, bahkan pada saat sakaratul maut, saat menghadapi kematian.
Dengan demikian, orientasi zikir adalah pada penataan hati atau qalb. Qalb memegang peranan penting dalam kehidupan manusia karena baik dan buruknya aktivitas manusia sangat bergantung pada kondisi qalb. Dunia tasawuf mengenal qalb dengan segenap kompleksitas. Ada yang disebut ”bashirah” atau mata hati yang mempunyai sifat dan potensi untuk melihat kebaikan dan keburukan. Ada pula yang disebut ”dlamir” yang berfungsi untuk memotivasi dalam bertindak kebajikan. Di kalangan para sufi sendiri, cara-cara, prinsip pembagian wujud. Dan istilah teknis batin atau qalb ini berbeda-beda sesuai dengan hasil intensitas pendakian pengalaman spiritual seseorang.

Hadirin yang dimulyakan Allah

Konsepsi zikir tersebut menunjukkan bahwa zikir merupakan pelatihan hati untuk ber-musyahadah kepada Allah. Musyahadah adalah upaya pengabaian manusia terhadap segenap yang destruktif, sekaligus sebagai obsesi untuk menjadi pribadi yang sempurna. Musyahadah inilah yang merupakan makna hidup yang telah lama menghilang dari kehidupan sehingga manusia terperangkap ke dalam berbagai krisis, mulai dari krisis sosial, krisis struktural, hingga krisis moral. Hilangnya musyahadah dari dalam diri manusia beriringan dengan orientasi hidup yang serba materialistis. Kehidupan manusia pun tidak lagi berkualitas karena pengabaiannya atas makna dan nilai. Kerja keras banyak diukur seberapa besar manfaat produk yang dihasilkan dan seberapa lama waktu yang telah dihabiskan. Padahal kerja keras juga mencakup nilai seberapa besar manfaat produk yang dihasilkan bagi kehidupan dan seberapa lama produk itu memberi manfaat bagi derajat kemanusiaan.
Disinilah peran zikir, yaitu memacu untuk bertindak berdasarkan pemanfaat dan kemaslahatan. Jika demikian, segala rupa tindakan lahiriah membutuhkan kejujuran, profesionalitas serta beroreintasi pada kemaslahatan umat manusia.
أقول قولي هذا وأستغفرالله لي ولكم
Khutbah II
الحمد لله حمدا كثيرا كما أمر، ونثني عليه عدد ما أثنى على نفسي، ونستعينه في السر والعلن، ونستغفره لذنوبنا ما ظهر منها وما بطن. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليما كثيرا.
أما بعد. فأصيكم عباد الله ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون.
Hadirin yang dimulyakan Allah

Kenyataan peran zikir ini bukanlah sesuatu yang ganjil sepanjang manusia mampu menjaga gerak keseimbangan antara ilmu, amal dan kebersihan batin (tashfiyatu-l-qalb). Sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Quran:
وَلِيَعْلَمَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا اْلعِلْمَ أَنَّهُ اْلحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوْا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوْبُهُمْ وَإِنَّ اللهَ لَهَادِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. (الحج: ٥٤ )
Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Quran itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (QS Al-Hajj [22]: 54)
            Walhasil, zikir dapat membimbing seseorang untuk beraktivitas dan hatinya. Zikir akan mempersembahkan hati manusia sebagai tempat suci yang didalamnya alam semesta menjelma sebagai bukti-bukti kehadiran Allah, kapan saja dan dimana saja.
            ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان، ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم. ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
                                                عباد الله، إن الله يأمركم العدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعدكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله كثيرا يذكركم واشكروه علي نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر.

    

read more

Cara Mempercepat Internet

0 komentar
Save as Oleh mahbubrisad - http://www.mahbubrisad.co.cc/ - by: prabuebook

Caranya Mempercepat Internet:

1. Klik menu Start > Run
2. Pada kotak dialog Run ketikkan regedit, lalu klik OK.
3. Sekarang kita cari alamat registry ini : HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\Current ControlSet\Services\Tcpip\ServiceProvider.
4. Setelah kita berada di direktori ServiceProvider ubah nilai-nilai dibawah ini semuanya menjadi :
o DnsPriority=1
o HostsPriority=1
o LocalPriority=1
o NetbtPriority=1
5. Tutup registry restart komputer.

read more

New

Iklan Gratis

ads ads ads ads
 

About Me

kukuruyuk
Pencarian yang tiada Henti
Lihat profil lengkapku
free counters Website counter

Follow by Email